BRMP Sistem Perkuat Pemahaman Hilirisasi Padi untuk Tingkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Pertanian
Karawang, 8 Juli 2026 – Hilirisasi komoditas pertanian menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian dalam mewujudkan pertanian modern yang mampu meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing produk, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk mendukung implementasi strategi tersebut, Balai Besar Pengembangan Sistem Modernisasi Pertanian (BRMP Sistem) menyelenggarakan kegiatan pembelajaran proses bisnis hilirisasi padi yang dirangkaikan dengan kunjungan lapang ke Laboratorium Mutu Benih BRMP Pascapanen di Karawang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penyusunan rancangan kegiatan Komponen A2C Program ICARE Tahun 2026. Melalui pembelajaran lapang dan diskusi teknis, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pengembangan sistem agribisnis padi yang terintegrasi, mulai dari penanganan pascapanen, pengolahan hasil, standardisasi mutu, hingga pengembangan produk hilir yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bagian Tata Usaha BRMP Sistem , Ahmadi, S.P., M.Sc. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa tantangan pembangunan pertanian saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana memastikan hasil panen terserap pasar dan memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
"Selama melakukan berbagai kunjungan lapangan, persoalan yang paling sering disampaikan petani bukan lagi bagaimana meningkatkan produksi, melainkan siapa yang akan membeli hasil panen mereka. Karena itu, pembangunan pertanian harus diperkuat hingga ke sektor hilir agar produksi yang meningkat benar-benar memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Ahmadi.
Lebih lanjut, Ahmadi menyampaikan bahwa Program ICARE merupakan salah satu instrumen strategis Kementerian Pertanian untuk memperkuat pengembangan kawasan pertanian melalui pendekatan dari hulu hingga hilir. Menurutnya, intervensi program tidak cukup berhenti pada penyediaan benih unggul, teknologi budidaya, maupun sarana produksi, tetapi juga harus mampu memperkuat rantai nilai melalui penanganan pascapanen, peningkatan mutu produk, pengolahan hasil, hingga pembukaan akses pasar yang berkelanjutan.
Pada sesi utama, Dr. Resa Setia Adiandri, S.TP., M.Si. dari BRMP Pascapanen menyampaikan materi bertajuk "Potensi Bisnis Hilirisasi Pascapanen Padi dan Produk Sampingannya". Ia menjelaskan bahwa hilirisasi padi tidak hanya menghasilkan beras sebagai produk utama, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan seluruh hasil samping penggilingan seperti menir, dedak, bekatul, sekam, dan jerami menjadi berbagai produk pangan maupun nonpangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dalam paparannya, peserta diperkenalkan dengan alur proses penggilingan padi modern yang dimulai dari gabah kering giling, proses husking, polishing, grading, hingga color sorting untuk menghasilkan beras bermutu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), Peraturan Menteri Pertanian, dan ketentuan Badan Pangan Nasional. Penerapan pengendalian mutu pada setiap tahapan tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menghasilkan beras yang mampu bersaing di pasar.
Selain itu, narasumber juga memaparkan berbagai inovasi teknologi pascapanen, di antaranya teknologi produksi beras dengan indeks glikemik rendah melalui proses perendaman, pengukusan, pengeringan, pemecahan kulit, penyosohan, dan separasi. Teknologi tersebut menghasilkan beras yang lebih sehat sekaligus memiliki nilai jual lebih tinggi sehingga berpotensi dikembangkan sebagai produk premium.
Potensi hilirisasi juga ditunjukkan melalui pengembangan beragam produk turunan berbasis padi, seperti beras instan biofortifikasi, tepung beras, bihun, kerupuk puli berbahan baku menir, dedak awet, hingga Rice Bran Oil (RBO) yang kaya antioksidan. Sementara itu, sekam padi memiliki peluang pemanfaatan sebagai bahan bakar biomassa, arang sekam, media tanam, kompos, hingga bahan baku nanosilika untuk industri pangan, farmasi, elektronik, dan bahan bangunan. Pemanfaatan hasil samping tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah dalam rantai usaha penggilingan padi.
Sebagai implementasi materi, peserta melakukan kunjungan lapang ke Laboratorium Mutu Benih BRMP Pascapanen. Pada kesempatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai proses pengujian mutu benih, mulai dari teknik pengambilan sampel, pengujian mutu fisik dan fisiologis, hingga sistem pengendalian mutu laboratorium yang diterapkan untuk menjamin kualitas benih. Kunjungan ini memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya standardisasi dan jaminan mutu sebagai bagian dari sistem hilirisasi pertanian yang berdaya saing.
Melalui kegiatan ini, BRMP Sistem berharap setiap daerah mampu mengembangkan model penerapan teknologi hilirisasi yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing dan dapat direplikasi secara luas. Penguatan inovasi, penerapan teknologi pascapanen, pengembangan produk bernilai tambah, serta peningkatan kualitas hasil pertanian diharapkan menjadi fondasi dalam mendukung Program ICARE sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada pangan, peningkatan daya saing komoditas nasional, dan transformasi menuju pertanian Indonesia yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan.