Tingkatkan Kapasitas Petani, BRMP Sistem Gelar Bimtek Pembuatan Drum Seeder di Bengkayang
Bengkayang, 8 Oktober 2026 — Balai Besar Pengembangan Sistem Modernisasi Pertanian (BRMP Sistem) menggelar bimbingan teknis (bimtek) pembuatan drum seeder di Desa Capkala, Kecamatan Capkala, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini diikuti 50 calon petani pelaksana Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) untuk meningkatkan kapasitas petani dalam menerapkan teknologi mekanisasi pada budi daya padi.
Drum seeder merupakan salah satu alat tanam benih langsung (atabela) yang membantu petani menanam benih padi secara lebih efisien. Penerapan alat ini diharapkan dapat menghemat waktu dan tenaga kerja sekaligus mendukung percepatan tanam pada areal persawahan.
Materi bimtek meliputi pengenalan atabela tipe drum seeder, teknik pembuatan, perakitan komponen, pengaturan lubang benih, serta cara pengoperasian alat di lahan sawah. Kegiatan dilaksanakan melalui metode in class dan out class. Peserta terlebih dahulu memperoleh penjelasan teori, kemudian mengikuti praktik pembuatan dan penggunaan alat untuk memahami penerapannya secara langsung.
Penyuluh Pertanian Januardi, S.ST., selaku narasumber, menjelaskan bahwa penggunaan atabela, termasuk drum seeder, merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi penanaman padi.
“Dengan tanam benih langsung, petani dapat menyederhanakan tahapan penanaman karena tidak perlu melakukan persemaian, pencabutan bibit, dan tanam pindah. Cara ini berpotensi menghemat waktu dan tenaga kerja, terutama pada hamparan sawah yang luas,” jelas Januardi.
Pembuatan Drum Seeder dengan Bahan yang Mudah Diperoleh
Drum seeder dapat dibuat menggunakan bahan yang relatif mudah diperoleh. Bagian wadah benih dapat menggunakan pipa PVC berdiameter 4 inci yang dilengkapi tutup paralon. Alternatif lainnya adalah memanfaatkan corong air yang dimodifikasi sesuai rancangan alat.
Pada wadah benih, lubang pengeluaran benih dibuat dengan diameter sekitar 1,2 cm dan jarak antarlubang 3 cm. Rancangan jarak tanam juga memperhatikan jarak antarbaris sebesar 25 cm serta lorong antarkelompok baris selebar 50 cm.
Untuk bagian roda, petani dapat memanfaatkan velg atau rangka roda sepeda yang dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi lahan berlumpur. Alternatif bahan roda lainnya dapat menggunakan styrofoam dengan ukuran dan konstruksi yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional. Rancangan teknis alat mengacu pada panduan BRMP Padi.
Mendukung Penerapan Pola Tanam PM-AAS
Penggunaan drum seeder mendukung penerapan pola tanam dalam kegiatan PM-AAS, termasuk pola 4:1 dan 6:1. Pola tersebut mengatur susunan barisan tanaman dengan jarak antarbaris 25 cm dan lorong selebar 50 cm sesuai rancangan pola tanam yang diterapkan.
Melalui pengaturan distribusi benih dalam barisan, drum seeder dapat membantu menghasilkan pertanaman yang lebih teratur dan mengoptimalkan penggunaan benih. Hasil penerapannya tetap dipengaruhi oleh ketepatan pengaturan alat, kondisi lahan, serta pengelolaan air dan pemeliharaan tanaman.
Januardi menambahkan bahwa keberhasilan penerapan mekanisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat, tetapi juga oleh kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan dan kemampuan petani dalam mengoperasikannya.
“Teknologi mekanisasi harus diterapkan sesuai dengan kondisi agroekosistem. Karena itu, pendampingan kepada petani menjadi penting agar alat dapat digunakan secara tepat dan memberikan manfaat optimal,” tambahnya.
Melalui bimtek ini, BRMP Sistem mendorong peningkatan kapasitas petani dalam membuat dan mengoperasikan alat tanam yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penerapan teknologi mekanisasi melalui PM-AAS untuk mendukung budi daya padi yang lebih efisien, terukur, dan adaptif terhadap kondisi lahan.
Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha tani, mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual dalam proses penanaman, serta mendukung peningkatan produktivitas dan penguatan ketahanan pangan nasional.