Dukung Pertanian Ramah Lingkungan, KMP ICARE Perkuat Kapasitas Petani melalui Bimtek APH dan Pesnab
Bengkayang, 9 Oktober 2026 - Balai Besar Pengembangan Sistem Modernisasi Pertanian (BRMP Sistem) memperkuat kapasitas petani dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara ramah lingkungan melalui bimbingan teknis (bimtek) agens pengendali hayati (APH) dan pestisida nabati (Pesnab). Kegiatan yang merupakan bagian dari Klinik Modernisasi Pertanian (KMP) ICARE ini dilaksanakan di Desa Capkala, Kecamatan Capkala, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Jumat (9/10/2026), dan diikuti oleh 50 petani.
Bimtek menghadirkan dua petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT) dari UPT Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, sebagai narasumber. Silvie Kurniasari, S.Si., menyampaikan materi mengenai agens hayati Trichoderma, mulai dari teknik perbanyakan hingga aplikasinya. Sementara itu, Muhana, S.Si., memberikan materi tentang pembuatan dan pemanfaatan pestisida nabati berbahan buah maja.
Kegiatan berlangsung melalui sesi teori dan praktik agar petani tidak hanya memahami konsep pengendalian OPT secara ramah lingkungan, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri. Pada sesi praktik, peserta melakukan inokulasi Trichoderma serta membuat pestisida nabati berbahan buah maja.
Trichoderma, Agens Hayati untuk Mengendalikan Penyakit Tanaman
Trichoderma merupakan kelompok jamur yang dapat dimanfaatkan sebagai agens pengendali hayati untuk menekan perkembangan sejumlah patogen penyebab penyakit tanaman. Pemanfaatannya menjadi salah satu alternatif dalam mendukung perlindungan tanaman sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Selain membantu menekan penyakit tanaman, beberapa jenis Trichoderma juga berpotensi merangsang pertumbuhan tanaman dan mendukung kesehatan tanah. Agens hayati ini dapat dimanfaatkan dalam upaya pengendalian penyakit, seperti layu fusarium, blas, dan sejumlah penyakit tanaman lainnya, sesuai dengan jenis Trichoderma, patogen sasaran, serta kondisi penerapannya.
Melalui praktik perbanyakan dan inokulasi, petani diharapkan memahami cara memanfaatkan agens hayati secara tepat untuk mendukung budi daya yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pestisida Nabati, Alternatif Pengendalian OPT dari Bahan Tumbuhan
Selain agens hayati, bimtek juga memperkenalkan pestisida nabati sebagai alternatif pengendalian OPT dengan memanfaatkan bahan yang berasal dari tumbuhan. Salah satu bahan yang dipraktikkan dalam kegiatan ini adalah buah maja.
Pestisida nabati dapat dibuat dari berbagai bahan tumbuhan, seperti daun pepaya, daun sirsak, cabai, kunyit, dan buah maja. Bahan-bahan tersebut berpotensi membantu mengendalikan hama tertentu, bergantung pada kandungan senyawa aktif, sasaran hama, serta cara pengolahannya.
Penggunaan pestisida nabati yang tepat dapat menjadi bagian dari pengendalian hama terpadu (PHT). Pendekatan ini membantu mengurangi penggunaan pestisida kimia secara berlebihan sekaligus mendukung pelestarian organisme berguna di lingkungan pertanaman. Namun, efektivitas dan keamanan penggunaannya tetap perlu diperhatikan melalui pemilihan bahan, dosis, dan cara aplikasi yang sesuai.
Perkuat Kemandirian Petani melalui KMP ICARE
Melalui bimtek APH dan Pesnab, KMP ICARE BRMP Sistem mendorong petani Capkala untuk meningkatkan keterampilan dalam menerapkan teknologi pengendalian OPT yang lebih ramah lingkungan. Kemampuan memperbanyak agens hayati dan membuat pestisida nabati secara mandiri diharapkan dapat memperluas pilihan teknologi pengendalian hama dan penyakit di tingkat usaha tani.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KMP ICARE BRMP Sistem dalam menghadirkan layanan informasi, pelatihan, dan pendampingan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani. Dengan meningkatnya kapasitas petani, penerapan praktik budi daya ramah lingkungan diharapkan semakin luas sehingga mendukung keberlanjutan usaha tani dan ekosistem pertanian.