BBPSMP Dorong Penguatan Bisnis Koperasi dan Perencanaan Usaha Petani Berbasis Lingkungan di Soppeng
SOPPENG, 16 Oktober 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sistem menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertema Perencanaan Bisnis Petani dan Koperasi Berbasis Lingkungan di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Jumat (16/10). Kegiatan ini diikuti sekitar 80 peserta, terdiri atas pengurus Koperasi Puncak Mario, pengurus Koperasi Enrekeng, perwakilan kelompok tani/gabungan kelompok tani (Poktan/Gapoktan) dari Kecamatan Marioriawa, Ganra, Lalabata, dan Lilirilau, serta penyuluh pertanian. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas usaha serta kelembagaan petani.
Dalam kegiatan tersebut, BRMP Sistem menekankan pentingnya penerapan teknologi dan pola tanam modern, seperti Jajar Legowo dan Tanam Benih Langsung (TABELA), guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Dengan potensi lahan sekitar 7.000 hektare, Kabupaten Soppeng memiliki peluang pengembangan pertanian melalui pengelolaan terpadu. Koperasi diharapkan menjadi penggerak usaha yang memperkuat posisi tawar petani sekaligus membuka akses pembiayaan dan pemasaran.
Dr. Nurhayati, S.P., M.Si., dari Polbangtan Bogor, menyampaikan materi perencanaan bisnis koperasi dan penjaminan mutu produk. Kelayakan usaha perlu mempertimbangkan modal, sumber daya manusia, dan kepastian pasar. Koperasi juga perlu menerapkan pengawasan mutu dan pencatatan yang konsisten. Pengolahan komoditas menjadi produk bernilai tambah, seperti bawang goreng, menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan margin usaha.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Yusran Yusuf, M.Si., Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI, menekankan pentingnya pertanian berkelanjutan melalui pemeliharaan kesuburan tanah, pemupukan berimbang, pengelolaan air, dan penggunaan pestisida kimia sebagai langkah terakhir. Pendekatan PMAIS mengintegrasikan benih unggul, irigasi, pemupukan, dan pengelolaan lahan untuk mendukung peningkatan produktivitas. Koperasi juga didorong memperkuat layanan sarana produksi dan kemitraan pemasaran, termasuk dengan Perum Bulog sebagai penyerap hasil panen.
Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan berbagai kendala, mulai dari tunggakan simpan pinjam Gapoktan, kebutuhan pupuk organik dan alsintan, hingga irigasi serta serangan hama tikus. Ketua Koperasi Puncak Mario, Usman, juga menyampaikan rencana penerapan skema Yarnen atau bayar setelah panen untuk membantu memenuhi kebutuhan sarana produksi anggota. Pengajuan bantuan dan fasilitas pertanian diarahkan melalui pendataan resmi berbasis Calon Petani Calon Lahan (CPCL), sedangkan pengelolaan simpan pinjam perlu dilakukan secara transparan melalui mekanisme organisasi.
Sebagai tindak lanjut, penyuluh pendamping akan mengawal rencana aksi selama tiga minggu, meliputi identifikasi produk potensial, penentuan calon pembeli dan mitra usaha, serta penyusunan analisis usaha dan uji coba bisnis sederhana. Koperasi juga didorong memperkuat penjaminan mutu, transparansi administrasi, dan perluasan keanggotaan untuk meningkatkan kapasitas usaha.
Melalui kegiatan ini, BRMP Sistem mendorong pengembangan koperasi sebagai penggerak ekonomi petani melalui perencanaan bisnis yang terukur, penerapan teknologi, dan pengelolaan pertanian berbasis lingkungan. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing usaha, nilai tambah produk, dan keberlanjutan pertanian di Kabupaten Soppeng.