BRMP Sistem Gelar Workshop Korporasi Petani, Perkuat Fondasi Pertanian Modern dan Berdaya Saing
Soppeng, 4 Juni 2026 – Upaya memperkuat kelembagaan petani sebagai fondasi pertanian modern terus dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Sistem Modernisasi Pertanian (BRMP Sistem), Kementerian Pertanian. Melalui Workshop Strategi Penguatan Permodalan, Bisnis, dan Teknis bagi Petani dan Korporasi Petani, BRMP Sistem menghadirkan ruang belajar dan kolaborasi bagi para pelaku utama pertanian di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Integrated Corporation of Agricultural Resources and Empowerment (ICARE) ini menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi petani dari sekadar pelaku budidaya menjadi bagian dari kelembagaan ekonomi yang kuat, profesional, dan mampu bersaing di tengah tantangan pertanian modern.
Workshop tersebut diikuti oleh 53 peserta yang terdiri atas pengurus kelompok tani dan Gapoktan, calon pengurus koperasi petani, penyuluh pertanian lapang dari Kecamatan Marioriawa dan Kecamatan Ganra, serta perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan kuatnya komitmen bersama untuk membangun ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dalam arahannya yang disampaikan secara daring, Kepala BRMP Sistem Dr. Muhammad Thamrin menyoroti berbagai tantangan yang saat ini dihadapi sektor pertanian, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan akses permodalan, hingga kebutuhan peningkatan penguasaan teknologi. Menurutnya, tantangan tersebut hanya dapat dihadapi melalui kelembagaan petani yang kuat dan terorganisir.
"Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas petani agar mampu bertransformasi menjadi kelembagaan ekonomi yang lebih maju dan mandiri. Saya yakin dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, kita mampu mewujudkan transformasi pertanian yang maju, mandiri, dan modern," ujarnya.
Sesi workshop semakin menarik dengan pemaparan dari Prof. Muhammad Hatta Jamil dari Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (UNHAS). Dalam materinya, ia menegaskan bahwa peningkatan produksi harus dibarengi dengan kemampuan mengelola keuangan dan bisnis secara profesional. Suasana diskusi berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Para peserta secara terbuka berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari sulitnya memperoleh akses pembiayaan formal, lemahnya pencatatan keuangan, hingga rendahnya posisi tawar petani dalam rantai pemasaran hasil pertanian. Beberapa di antaranya meliputi penguatan modal internal koperasi, optimalisasi pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Dana Bergulir LPDB-KUMKM, penerapan manajemen arus kas yang lebih baik, serta pengembangan kemitraan pemasaran yang memberikan nilai tambah lebih adil bagi petani.
Workshop ini menjadi bukti bahwa penguatan korporasi petani bukan hanya soal pembentukan kelembagaan, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun pertanian Indonesia yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan. Melalui Program ICARE, BRMP Sistem terus berkomitmen mendampingi petani dalam setiap tahapan pengembangan usaha, sehingga kelompok tani, Gapoktan, dan koperasi yang tumbuh mampu menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan.
Dengan kolaborasi yang semakin kuat antara petani, penyuluh, pemerintah daerah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, harapan untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern semakin nyata. Dari Soppeng, semangat transformasi pertanian Indonesia terus tumbuh dan mengakar demi kesejahteraan petani serta ketahanan pangan nasional.